Judul : Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan
Penulis : Maulana Achmad - Inez Dikara - Dedy T. Riyadi
Penerbit : Carangbook 2008, Yogyakarta
Tebal : xxi + 118 hlm; 13,5 cm x 20 cm
ISBN :978-979-99838-3-1
Harga: Rp 25.0000,-
- “Kumpulan ini bukanlah sebuah selebrasi,” (Akmal Nasery Basral, jurnalis-penulis)
- “Mereka sedang menunjukkan pada kita bahwa hidup begitu memikat justru karena ia (terlalu) singkat,” (Gratiagusti Chananya Rompas, penggagas Komunitas BungaMatahari)
- “…kontemplasi yang memadukan unsur peristiwa dan kegelisahan dalam diri,” (Kurnia Effendi, cerpenis-penyair)
- “Ketiga penyair ini sedang menegur pembaca dengan cara yang berbeda,” (Sigit Susanto, penulis-penikmat sastra-moderator Apresiasi Sastra)
- ” …mereka sengaja membiarkan rasa, logika, dan intuisi kosmik berkolaborasi dengan gaduh sembari menjaga kamar puitik mereka tetap hening,” (TS. Pinang, penyair)
- ” … seperti mempertemukan tiga penyair lantas ketiganya menzikirkan sajak dengan caranya sendiri-sendiri,” (Hasan Aspahani, penyair)
Buku kumpulan sajak “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” setebal 118 halaman ini disunting oleh TS Pinang, disupervisi oleh Raudal Tanjung Banua dan Joni Ariadinata, tata letak dan desain sampul oleh Kinu Triatmojo, foto-foto penyair oleh Pradnya Paramita dan Oman, serta produksi oleh Nur Wahida Idris. Terdapat pula ulasan dari Hasan Aspahani sebagai kata pengantar buku kumpulan sajak ini.
.
.
.
Judul : Bon Suwung
Penulis : Gunawan Maryanto
Penerbit : INSISTPress 2005, Yogyakarta
Tebal : 152 hlm; 13 x 20,5 cm
ISBN :979-3457-46-5
Harga: Rp 35.0000,-
Merujuk pandangan Prof Budi Darma ada tiga ciri cerpen Gunawan Maryanto. Pertama, cerpen identik dengan puisi. Kedua, cerpen adalah alusi. Ketiga, cerpen identik dengan dunia asing. Karena cerpen identik dengan puisi, maka cerpen Gunawan Maryanto bertitik berat pada retorika, bukan dua komponen utama dalam cerpen-cerpen tradisional, yakni penokohan dan alur. Cerpen adalah alusi, karena itu sebagian cerpen Gunawan Maryanto berdasarkan teks yang sudah ada sebelumnya, seperti novel, puisi dan penelitian. Bahkan, sebetulnya cerpen Gunawan tidak secara langsung merupakan alusi pun, tidak lepas dari teks-teks yang sudah ada sebelumnya. Retorika cenderung untuk tidak menyentuh realitas yang sebenarnya, sementara alusi adalah teks yang secara tidak langsung diangkat ke dalam teks lain, karana itu jangan heran, cerpen Gunawan Maryanto menawarkan dunia yang asing.

